Ini ada satu tulisan yang patut dibaca. Satu ulasan yang sangat menarik dan patut direnungkan dengan baik, agar kita semua bisa hidup lebih sehat dengan makanan, … tanpa harus nelenin obat-obatan.

Kemarin ada tulisan “minum Jus bisa berakibat sakit Ginjal”, tanpa menjelaskan jus itu yang langsung dibuat dari buah-sayur dirumah atau jus yang sudah botolan/kerdus hasil produksi industri. Kemungkinan besar,
adalah jus botolan/kerdus yang dijual dipasar yang dimaksudkan, kalau diminum kebanyakan bisa berakibat sakit ginjal. Seperti dikatakan tulisan dibawah, jus-jus dipasar itu sudah ditambahi pengawet, pewarna,
pemanis dan perasa biar lebih enak, biar lebih banyak orang suka dan membelinya, tapi ya itulah hasilnya bikin penyakit bagi orang yang minum kebanyakan. Kenyataan yang ada, beberapa sahabat sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun minumin jus yang buat sendiri, dengan buah-sayur segar dan langsung diminum, tidak tertunda lebih dari sejam setelah buah-sayur itu di jus, mereka bukan kena sakit ginjal, malah bisa hidup lebih sehat, …

Jawaban itu mirip dengan cara menjawab sejumlah dokter yang menjadi pejabat pemerintah, kenapa kasus penyakit X meningkat dari tahun ke tahun. Katanya, itu karena petugas kesehatan lebih rajin meneliti di lapangan, sehingga menemukan kasus-kasus baru.

Jawaban dokter semacam itu mungkin saja benar, tetapi boleh jadi tidak tepat. Di negara-negara maju,
pertanyaan tentang bermunculannya macam-macam penyakit orang modern itu dijawab dengan cara lain. Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi selain memudahkan manusia untuk hidup, juga telah menghasilkan sejumlah ekses berupa penyakit.

Contohnya, beberapa buku dan sumber menyebutkan, penyakit jantung baru muncul di awal tahun 1900-an.
“Penyakit jantung adalah penyakit abad 20; serangan jantung pertama dijelaskan di dalam Journal of the American Medical Association tahun 1908. Faktanya, kalau Anda melihat sebuah buku medis dari tahun 1860-an, Anda tidak akan menemukan apa pun tentang aterosklerosis jantung,” ungkap Dr. Michael A.
Klaper, Direktur Institute of Nutritional Education and Research di California, AS, seperti dikutip Mothernature.com.

Di Amerika Serikat saat ini setidaknya empat dari sepuluh penyakit yang menyebabkan kematian paling banyak, yaitu penyakit jantung, kanker, stroke, dan diabetes, berkaitan dengan gaya makan kita.

Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik juga memiliki potret yang sama, setelah masyarakat di wilayah ini mengubah gaya makannya meniru orang-orang Amerika. Bahkan, orang Jepang yang makanan tradisionalnya dikenal sangat baik bagi kesehatan dan membuat panjang umur, belakangan mengalami penyakit yang sama dengan orang Amerika, setelah mereka meninggalkan gaya makan tradisionalnya.

KESADARAN ATAS MAKANAN
Oprah Winfrey, ratu talkshow dunia, dalam salah satu acaranya pekan ini, memaparkan apa yang dia ketahui tentang kesadaran atas makanan. “Yang saya tahu tentang kesadar-an atas makanan adalah kunyah pelan-pelan dan habiskan makanan di piring karena tidak baik membuang-buang makanan,” ujarnya terus
terang.

Itu pun tidak dapat dilakukan karena dia tergolong orang yang sangat sibuk. Yang biasanya terjadi adalah dia makan apa saja yang disiapkan asistennya secara cepat. Akibatnya, dia sering tidak ingat apa yang telah dimakannya, lalu makan lagi karena merasa seperti-nya makanan yang tadi tidak cukup.

Bukan kesadaran seperti Oprah itu yang dimaksudkan. Yang dimaksud dengan kesadaran atas makanan ialah pemahaman tentang apa saja bahan pangan yang kita makan, bagaimana itu ditanam atau diternakkan, bagaimana di-olah, disimpan, didistribusikan, sampai dengan bagaimana disiapkan di meja makan, serta bagaimana kita memakannya.

Teknologi di bidang pertanian mau-pun pengolahan makanan, betapapun menghasilkan percepat-an dan volume produksi. Ini bukan hanya persoalan mesin yang menggantikan kerbau atau sapi untuk membajak sawah, melainkan juga pupuk, penyemprot hama (insektisida), rekayasa benih, rekayasa pembibitan, dan lain-lain. Semua-nya membawa unsur kimia sintetis yang secara akumulatif menyebabkan tubuh manusia tidak mampu menoleransinya, dan menjadi sakit.

Pada saat makan, kita pun di-harapkan memahami bagaimana proses pengawetan makanan dilakukan.
Contohnya, bahwa yang kita makan itu bukanlah dendeng hasil berburu di hutan, yang dapat dipastikan bahwa hewan buruan itu makan dari hasil hutan yang tidak dicemari pestisida dan insektisida. Dendeng itu juga bukan diawetkan dengan cara dibumbui rempah dan gula aren, lalu diangin-angin, seperti yang dilakukan masyarakat di Pegunungan Bromo atau Semeru.

Dendeng yang kita makan berasal dari sapi peternakan modern, yang diberi pakan olahan, disuntik hormon biar cepat beranak dan cepat dewasa, diolah dengan mesin, diberi zat kimia tertentu, sehingga membuatnya awet
disimpan berbulan-bulan di dalam plastik tertutup.

Jadi ketika kita makan sepotong dendeng, kita hendaknya sadar manfaat nutrisi apa yang kita dapatkan sekaligus zat kimia sintetis apa yang bakal kita konsumsi. Belum lagi bila kita menggorengnya dengan minyak panas. Artinya itu lemak trans yang membahayakan jantung. Ini baru kisah tentang sepotong dendeng.

Intensifikasi pertanian selain membawa kelanjutan dengan teknologi pengolahan makanan juga mendatangkan teknologi penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, dan pemanfaatan. Dari situlah beragam penyakit timbul.
Pestisida, pakan ternak, rekayasa pembibitan, sampai dengan cara pengawetan dan teknologi peng-olahan makanan menjadi sumber masalah baru.

Bayangkan berapa banyak kemampuan sebuah pohon apel berbuah dan bertahan segar, dengan dan tanpa teknologi? Namun, pestisida yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi, dan lilin pelapis yang membuat
buah bertahan segar berbulan-bulan, sangat tidak bersahabat bagi tubuh kita. Itu sebabnya sekarang banyak sekali orang menderita sakit kanker.

Begitu pula dengan wabah kege-mukan pada anak-anak, termasuk kecenderungan anak laki-laki memiliki payudara besar, tetapi berpenis kecil (bisa menyebabkan kemandulan), selain karena tak terkontrolnya
jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, obat dan hormon yang diberikan kepada ternak diyakini memberi kontribusi besar.

PERUBAHAN GAYA MAKAN
Gaya makan telah dibuktikan menjadi penyebab berbagai penyakit, mulai dari jerawat sampai artritis, dari kehilangan pendengar-an sampai kerontokan rambut, dari sindrom premenstruasi sampai gangguan
pascamelahirkan, dari sakit kepala sampai sakit jantung, dari alergi hingga sakit kanker, dan sebagainya.

Anda mungkin tanpa sadar, karena mengikuti apa saja yang ditawarkan oleh televisi, koran, dan majalah, telah meninggalkan gaya makan tradisional warisan nenek moyang. Maksud hati mau mengikuti tren gaya hidup, Anda tergiur oleh iming-iming kepraktisan, kemudahan, dan efisiensi (yang menjadi mantra dalam dunia
industri modern). Anda memberikan makanan dan camilan modern yang sangat gaya.

Anak-anak menyukai karena rasanya gurih, garing, asin. Minum-annya serba manis luar biasa, de-ngan warna warni menarik. Tahukah Anda, zat-zat berbaha-ya apa saja yang Anda berikan kepada anak-anak lewat
camilan dan minuman penuh gaya itu? Tahukah Anda, apa penyakit yang akan terjadi pada anak-anak Anda 10 atau 15 tahun ke depan akibat makanan yang Anda berikan kepada mereka?

Riset di seluruh dunia membuktikan, penyakit jantung, stroke, kanker, dan diabetes diderita oleh orang-orang
dengan usia semakin muda akibat gaya makannya yang serba instan, miskin gizi dan serat, tetapi kaya lemak, garam, dan gula. Diperlukan waktu di atas 10 tahun bagi seseorang untuk terkena penyakit jantung, misalnya.

Selama puluhan tahun kita “dididik” dengan ajaran keliru soal gaya makan nasi. Ketika teknologi selep masuk Indonesia, beras berwarna putih dihargai tinggi karena mewakili modernisasi. Semakin putih warna beras,
semakin pulen, semakin mahal harganya. Kini sebagian pengusaha beras bahkan mencampurnya dengan bahan pemutih.

Tahukah Anda, makan beras putih pulen berarti kita tinggal makan ampas karbohidrat? Tidak ada lagi zat gizi yang tertinggal. Bekatul yang membuat warna beras tidak putih dan kurang pulen, disingkirkan. Padahal, di situlah letak nilai gizi beras.

Beras merah yang kaya serat dan zat gizi, selama puluhan tahun membuat orang tersinggung bila dihidangkan di atas meja karena merasa disamakan dengan burung.

KEMBALIKAN AJARAN HIPPOCRATES
Bapak kedokteran modern, Hippocrates yang hidup 400 tahun sebelum Masehi, pernah mengingatkan, “Biarlah makanan menjadi obatmu dan obat menjadi makananmu.” Bukan maksudnya supaya kita rajin minum obat dari
dokter (yang notabene adalah racun), melainkan menjadikan makanan kita sehari-hari itu sebagai pencegah maupun solusi mengatasi penyakit.

Kesehatan dan vitalitas dapat diraih melalui pemahaman tentang makanan mana yang baik bagi tubuh. Ini bukan perkara berapa kalo-ri melainkan bagaimana membuat tubuh dalam kondisi seimbang.

Penemu visioner Thomas A. Edison juga pernah berkata, dokter-dokter di masa depan tidak akan memberi obat, tetapi lebih tertarik untuk merawat pasien sebagai manusia, melalui makanan dan apa yang menjadi penyebab sakitnya.

“Alasan mengapa begitu banyak di antara kita menjadi sakit dan terus-menerus sakit adalah ketidak-seimbangan nutrisi,” tulis Elson Haas, MD, penulis buku Staying Healthy with Nutrition.

Keluhan banyak orang mo-dern sakit nyeri, kram, kesemutan pertanda terjadi gangguan pada saraf tepi. Boleh jadi keluhan itu disebabkan oleh kebiasaan makan ampas karbohidrat beras putih pulen. Mereka tidak pernah makan bekatul yang diketahui sebagai sumber vitamin B1, B6, B12, dan B 15, yang merupakan vitamin bagi saraf.

Orang modern suka makan makanan yang diproses dan diawetkan, padahal makanan tersebut telah kehilangan kandungan nutrisinya. “Vitamin dan serat yang tertinggal hanya sedikit, sedangkan yang banyak adalah lemak, gula, dan garam,” begitu peringatan Dr. Haas.

Nina Planck, penulis buku Real Food, What to Eat and Why, meng-ajak untuk kembali ke makanan tradisional, yang diolah, ditanam, dan diternakkan secara tradisional. Melalui bukunya itu ia memberikan bukti-bukti dan argumentasi bahwa teknologi modern di bidang pertanian, peternakan, dan pengolahan pangan sangat tidak pro pada kesehatan kita.

Mengapa masyarakat tradisi-onal di Papua sampai Nigeria bisa mengonsumsi lemak jenuh dalam jumlah banyak dan tidak terserang penyakit jantung? Menurut Planck, karena makanan tradisional tidak banyak mengandung tepung terigu dan gula (yang menghabiskan vitamin B), tetapi kaya daging, hati, ikan, padi-padian alami, sayuran hijau yang semuanya merupakan sumber asam folat dan vitamin B yang sangat baik.

Asam folat, vitamin B6 dan B12 menjaga tingkat homosistein tetap rendah. Homosistein tinggi mening-katkan trigliserida dan membentuk LDL (lemak jahat) teroksidasi, sehingga menyebabkan penyumbatan arteri.

Mungkin orang modern sulit membayangkan makan sayur yang baru dipetik dari kebun, tanpa pestisida dan insektisida. Atau minum susu segar yang baru diperah dari sapi yang makan rumput liar, menikmati telur rebus
dari ayam kampung yang makannya rumput liar, makan roti gandum bikinan sendiri dengan selai nanas resep dari nenek.

Bagaimanapun, memilih makanan yang kita konsumsi secara cermat merupakan langkah tepat untuk
menjaga tubuh tetap sehat. Bila tidak dapat 100 persen, kita akan mendapatkan manfaat dari upaya kita sehari-hari semaksimal mungkin memilih makanan alami, segar, dan tradisional.

Buat apa tampak gaya dan mo-dern, tetapi menciptakan penyakit bagi diri sendiri? You are what you
eat.